Hukum Penggunaan Jimat dan Benda Berkhodam
Chat WA Otomatis - KLIK DI SINI
jimat pengasihan, jual jimat pengasihan, jimat pengasihan wanita, jimat pengasihan ampuh

Hukum Penggunaan Jimat dan Benda Berkhodam

Tidak diragukan banyak pendapat memperdebatkan mengenai penggunaan jimat (azimat) atau benda berkhodam.  Penggunaan jimat dianggap tidak sesuai dengan ajaran Agama dan bertentangan dengan akidah. Sehingga memunculkan kekhawatiran manusia akan terlalu mengkultuskan dan menggantungkan hidupnya pada jimat. Mereka akan menjadi malas bekerja ataupun beribadah. Karena merasa telah menemukan kunci rezeki. Akibatnya beribadah dan bekerja dianggap tidak perlu.

Pendapat tersebut memang ada benarnya. Namun alangkah baiknya jika menyikapi penggunaan jimat ini lebih bijaksana. Coba kita tengok ke dalam sejarah-sejarah para Nabi. Bukankah nabiyullah juga menggunakan berbagai perantara untuk mencapai hajat yang mereka inginkan. Semisal Nabi Musa As, melalui perantara tongkatnya beliau dapat membelah lautan sehingga selamat dari angkara murka Fir’aun. Nabi Nuh yang melalui perantara bahteranya akhirnya mampu menyelamatkan umatnya. Atau juga nabi Sulaiman As, menggunakan cincinnya yang berkhodam jin untuk menaklukkan kekolotan Ratu Bilqis agar mau menyembah kepada Tuhannya.

Di dunia ini sumber semua pertolongan tentu saja Allah. Penggunaan benda-benda semacam itu sebenarnya hanyalah sebagai wasilah atau perantara saja. Bukan untuk menyekutukan kekuasaan Tuhan yang Maha Kuasa. Asalkan dengan tujuan yang baik dan bukan atas dasar sesuatu hal yang mendatangkan madharat (kerugian) baik bagi diri sendiri, orang lain, ataupun lingkungan sekitar. Serta untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullahu menjelaskan: “Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyebutkan bahwa meminta bantuan kepada jin ataupun khodam ada tiga bentuk :

Pertama, Boleh meminta bantuan dalam perkara ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, seperti menjadi pengganti di dalam menyampaikan ajaran agama. Contohnya, apabila seseorang memiliki teman jin yang beriman dan jin tersebut menimba ilmu darinya. Maksudnya, jin/khodam tersebut mendapat berkah ilmu dari kalangan manusia, kemudian setelah itu jin/khodam tersebut menyebarkan kebaikan melalui ajaran kebaikan yang diajarkan manusia kepadanya.

Bisa jadi, menjadi sesuatu yang amat terpuji dan termasuk berdakwah fisabilillah atau ibadah ghairu mahdhah (ibadah yang tidak ditentukan tata caranya dalam fiqh, seperti menolong sesama). Sebagaimana telah terjadi sekumpulan jin menghadiri majelis Rasulullah Saw dan dibacakan kepada mereka Al-Qur`an. Selanjutnya, mereka kembali kepada kaumnya sebagai pemberi peringatan. Di kalangan jin sendiri terdapat orang-orang yang shalih, ahli ibadah, zuhud dan ada pula ulama, karena orang yang akan memberikan peringatan semestinya mengetahui tentang apa yang dibawanya, dan dia adalah seseorang yang berakhlak mulia.

Kedua, Meminta bantuan kepada mereka dalam perkara yang diperbolehkan. Dalam hal ini, dengan syarat wasilah (perantara) untuk mendapatkan bantuan jin tersebut adalah sesuatu yang boleh dan bukan perkara yang haram. Perkara yang haram tersebut, misalnya memerintah jin/khodam untuk mencuri, menyakiti orang lain, atau merugikan orang lain. Begitu juga tidak boleh, atas dasar pertolongan dari khodam tersebut manusia menyembah pada jin/khodam. Karena yang layak disembah tentu saja Tuhan, sebagaimana firman-Nya:
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku” (QS. Az- Zariaat: 56).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah meriwayatkan bahwa Sahabat Umar Ra, pernah terlambat datang pada suatu majlis, hingga hal ini membuat khawatir Abu Musa ra. Kemudian mereka berkata kepada Abu Musa: “Sesungguhnya ada seorang wanita yang memiliki teman dari kalangan jin di antara penduduk negeri itu. Bagaimana jika wanita itu diperintahkan agar mengutus temannya untuk mencari kabar di mana posisi Sayyidina Umar?” Lantas ia melakukannya, Jin itu pun kembali dan mengatakan: “Amirul Mukminin tidak apa-apa dan dia sedang memberikan tanda bagi unta yang akan disadaqahkan.” Inilah bentuk meminta pertolongan kepada mereka dalam perkara yang diperbolehkan.

Ketiga, diharamkan meminta bantuan jin untuk mengambil harta orang lain, menyakiti, atau menakut-nakuti kehidupan orang lain. Untuk hal ini tolong-menolong di jalan yang benar baik bagi kalangan manusia maupun khodam adalah sesuatu yang sah. Sebagaimana firman-Nya :

“Dan tolong-menolonglah kalian di dalam kebaikan dan ketakwaan dan jangan kalian saling tolong menolong di dalam perbuatan dosa dan maksiat.” (Al-Ma`idah: 2).

Menggunakan jimat/azimat berkhodam merupakan salah satu bentuk wasilah untuk mendapat Ridho-Nya. Menjadi perkara yang halal apabila digunakan untuk keperluan yang tidak melenceng dari tata norma, aturan kemasyarakatan, atau bukan untuk perkara yang membawa kerugian. Bisa juga menjadi haram, tatkala menggunakannya untuk suatu perkara yang menjauhkan diri dari Tuhan. Setinggi-tingginya kekuatan khodam. Tuhanlah yang menciptakannya. Jadi sepatutnya tetap Ridho-Nya yang menjadi tujuan kita.

Sebagaimana diungkapkan dalam surat Al-Baqarah ayat 30, bahwa kitalah makhluk paling mulia yang diciptakan Allah Swt. Maka wajar jika khodam membantu manusia karena setinggi-tingginya derajat mereka di alamnya. Tetaplah manusia sebagai khalifah yang diciptakan Tuhan ke dunia ini.

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat: Sesungguhnya Aku telah menjadikan (manusia) khalifah di muka bumi” (QS. Al-Baqarah: 30).

Khodam yang ada di dalam jimat/benda bertuah bukanlah khodam yang langsung “seketika” mendatangkan apa yang diminta manusia. Ia hanya berperan sebagai pembuka jalan dan peluang. Sedangkan manusia masih wajib berusaha meraihnya. Dengan kata lain untuk mencapai hasil yang maksimal, kita tidak bisa hanya mengandalkan jimat tersebut. Manusia wajib berusaha dengan kekuatan lahir/fisiknya. Sembari berdoa kepada Yang Maha Kuasa.

 

Lakukan Pemesanan Jimat Pengasihan - Silahkan KLIK DI SINI